Senin, 03 Juni 2013

ANALISIS VIDEO ANAK JALANAN DAN PELAJAR TAWURA


Dari video yang telah saya lihat mengenai anak jalanan dan pelajar tawuran ada beberapa point akan saya coba analisis yang dilihat dari hakikat IPS. Membandingkan antara kehidupan yang nyata dengan  konsep yang ada.
Dalam lingkungan bermasyarakat akan banyak sekali ditemukannya masalah sosial. Masalah sosial tidak hanya melibatkan diri sendiri sebagai pelaku, melainkan juga akan memberikan banyak pengaruh bagi lingkungan dan masyarakat banyak.
Sebutan anak jalanan digunakan bagi kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan bekerja dijalananan. Biasanya atau kebanyakan anak jalanan itu tidak memiliki keluarga, sehingga mereka berkeliaran di jalanan. Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang negatif, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja di jalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya maka mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmani, rohani dan intelektualnya. Hal ini disebabkan antara  lain lingkungan kerja.
Keuntungan yang mereka dapat tidak seberapa, namun harus mereka lakukan agar dapat tetap hidup. Anak-anak jalanan ini biasanya mangkal di terminal atau di persimpangan-persimpangan jalan. Apa yang mereka lakukan adalah sebenarnya karena faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang memaksa mereka harus bekerja.
Namun dari hasil jerih payah itu ada sebagian besar anak jalanan yang membelikan uangnya untuk drugs. Ada berbagai cara bagi mereka untuk mendapatkan drugs, seperti membeli, meminta, diberi dan merampas. Pada beberapa kasus,  anak mencoba mencari barang-barang yang murah, misalnya mengkonsumsi kecubung dan menghisap lem aica aibon.
Selain anak jalanan yang bermasalah dengan penggunaan drugs dengan menghisap lem aica aibon adapula masalah anak pelajar yang tawuran.
Tawuran pelajar adalah kejahatan yang biasanya di kota-kota besar. Mereka (pelajar) bergerombol/ berkumpul di tempat-tempat keramain (halte, mall-mall, jalan-jalan protokol) siap mencari lawannya. Dengan berbekal senjata tajam, gier, rantai, dan alat pemukul mereka siap mencari sasaraan dan melakukan tindak kekerasan. Para pelajar ini menurunkan kebiasan buruknya kepada adik-adik kelasnya. Pelajar begitu mudah untuk melakukan tindak kekerasan tawuran, inilah penyimpangan-penyimpangan yang tumbuh subur pada diri para pelajar. Mereka beralasan karena solidaritas pertemanan.
Masalah anak jalanan dan pelajar tawuran adalah masalah yang sangat kompleks yang menjadi masalah kita bersama. Pemerintah harus konsen dalam menyelesaikan masalah sosial tersebut. Masalah ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja melainkan harus ditangani bersama-sama oleh berbagai pihak yang perduli terhadap permasalahan ini.
Peran sekolah, lingkungan, orangtua dan pemerintah merupakan satu kesatuan yang harus bertanggung jawab dan bekerjasama dengan baik untuk menanggulangi permasalahan ini. Dengan adanya kerjasama, baik lingkungan pendidikan, orangtua dan pemerintah akan memberikan solusi untuk pemecahan masalah ini. Kementrian Pendidikan agar selalu menekankan sekolah-sekolah untuk berkomunikasi aktif dengan orang tua siswa dan pemerintah sendiri agar bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk membuat kebijakan-kebijakan dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan selalu melakukan evaluasi secara kontinyu. Dimana semua pendidikan harus merujuk kepada taksonomi bloom yaitu:
1.      Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.      Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.      Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Kemudian berikan motivasi pelajar-pelajar dalam pelaksaan pembelajaran termasuk mengenai pembelajaran social atau IPS, karena IPS diperlukan untuk :
Ø  Pengalaman hidup masa lampau dengan situasi sosialnya yang labil memerlukan masa depan yang mantap dan utuh sebagai suatu bangsa yang bulat.
}  Laju perkembangan kehidupan, teknologi, dan budaya Indonesia memerlukan kebijakan pendidikan yang seirama dengan laju itu.
}  Agar output persekolahan benar-benar lebih cocok dan sesuai serta bermanfaat.
}  Setiap orang akan dan harus terjun kedalam kancah kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu perlu dipersiapkan ilmu khusus, yaitu IPS.
Menurut Ridwan Effendi (dalam Nu’man Somantri, 2010 : 32) ada tiga hal penting yang dapat mengidentifikasi pentingnya pembelajaran IPS tersebut, yaitu :
  1. Masalah dimensi waktu
  2. Masalah ruang atau tempat
  3. Masalah udara
Ruang lingkup IPS tidak lain menyangkut kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat atau manusia dalam konteks sosial. Selanjutnya IPS sebagai program pendidikan, ruang lingkupnya sama yakni berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat dan dilengkapi dengan nilai-nilai yang menjadi karakteristik program pendidikannya. Untuk itu IPS sebagai program pendidikan tidak hanya terkait dengan nilai tapi wajib mengembangkan nilai tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
blogger template by arcane palette