Dari video yang telah saya lihat
mengenai anak jalanan dan pelajar tawuran ada beberapa point akan saya coba analisis yang dilihat
dari hakikat IPS. Membandingkan
antara kehidupan yang nyata dengan
konsep yang ada.
Dalam lingkungan bermasyarakat akan
banyak sekali ditemukannya masalah sosial. Masalah sosial tidak hanya
melibatkan diri sendiri sebagai pelaku, melainkan juga akan memberikan banyak
pengaruh bagi lingkungan dan masyarakat banyak.
Sebutan anak jalanan digunakan bagi
kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan bekerja dijalananan. Biasanya atau
kebanyakan anak jalanan itu tidak memiliki keluarga, sehingga mereka
berkeliaran di jalanan. Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang
negatif, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang
bekerja di jalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang
untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya maka
mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmani,
rohani dan intelektualnya. Hal ini disebabkan antara lain lingkungan kerja.
Keuntungan yang mereka dapat tidak
seberapa, namun harus mereka lakukan agar dapat tetap hidup. Anak-anak jalanan
ini biasanya mangkal di terminal atau di persimpangan-persimpangan jalan. Apa
yang mereka lakukan adalah sebenarnya karena faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang
memaksa mereka harus bekerja.
Namun dari hasil jerih payah itu ada
sebagian besar anak jalanan yang membelikan uangnya untuk drugs. Ada berbagai
cara bagi mereka untuk mendapatkan drugs, seperti membeli, meminta, diberi dan
merampas. Pada beberapa kasus, anak mencoba mencari barang-barang yang
murah, misalnya mengkonsumsi kecubung dan menghisap lem aica aibon.
Selain anak jalanan yang bermasalah
dengan penggunaan drugs dengan menghisap lem aica aibon adapula masalah anak
pelajar yang tawuran.
Tawuran
pelajar adalah kejahatan yang biasanya di kota-kota besar. Mereka (pelajar) bergerombol/
berkumpul di tempat-tempat keramain (halte, mall-mall, jalan-jalan protokol)
siap mencari lawannya. Dengan berbekal senjata tajam, gier, rantai, dan alat
pemukul mereka siap mencari sasaraan dan melakukan tindak kekerasan. Para
pelajar ini menurunkan kebiasan buruknya kepada adik-adik kelasnya. Pelajar
begitu mudah untuk melakukan tindak kekerasan tawuran, inilah
penyimpangan-penyimpangan yang tumbuh subur pada diri para pelajar. Mereka
beralasan karena solidaritas pertemanan.
Masalah anak jalanan dan pelajar
tawuran adalah masalah yang sangat kompleks yang menjadi masalah kita bersama.
Pemerintah harus konsen dalam menyelesaikan masalah sosial tersebut. Masalah
ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja melainkan harus ditangani
bersama-sama oleh berbagai pihak yang perduli terhadap permasalahan ini.
Peran
sekolah, lingkungan, orangtua dan pemerintah merupakan satu kesatuan yang harus
bertanggung jawab dan bekerjasama dengan baik untuk menanggulangi permasalahan
ini. Dengan adanya kerjasama, baik lingkungan pendidikan, orangtua dan
pemerintah akan memberikan solusi untuk pemecahan masalah ini. Kementrian
Pendidikan agar selalu menekankan sekolah-sekolah untuk berkomunikasi aktif
dengan orang tua siswa dan pemerintah sendiri agar bekerjasama dengan
lembaga-lembaga pendidikan untuk membuat kebijakan-kebijakan dan
melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan selalu melakukan evaluasi secara
kontinyu. Dimana semua pendidikan harus merujuk kepada taksonomi bloom yaitu:
1.
Cognitive Domain
(Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan,
pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.
Affective Domain
(Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan
emosi, seperti minat, sikap,
apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.
Psychomotor Domain (Ranah
Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik
seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan
mesin.
Kemudian berikan
motivasi pelajar-pelajar dalam pelaksaan pembelajaran termasuk mengenai pembelajaran
social atau IPS, karena IPS diperlukan untuk :
Ø Pengalaman
hidup masa lampau dengan situasi sosialnya yang labil memerlukan masa depan
yang mantap dan utuh sebagai suatu bangsa yang bulat.
} Laju
perkembangan kehidupan, teknologi, dan budaya Indonesia memerlukan kebijakan
pendidikan yang seirama dengan laju itu.
} Agar output
persekolahan benar-benar lebih cocok dan sesuai serta bermanfaat.
} Setiap orang
akan dan harus terjun kedalam kancah kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu perlu
dipersiapkan ilmu khusus, yaitu IPS.
Menurut Ridwan Effendi (dalam Nu’man Somantri, 2010 : 32) ada tiga hal
penting yang dapat mengidentifikasi pentingnya pembelajaran IPS tersebut, yaitu
:
- Masalah dimensi waktu
- Masalah ruang atau tempat
- Masalah udara
Ruang lingkup
IPS tidak lain menyangkut kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat atau
manusia dalam konteks sosial. Selanjutnya IPS sebagai program pendidikan, ruang
lingkupnya sama yakni berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat dan
dilengkapi dengan nilai-nilai yang menjadi karakteristik program pendidikannya.
Untuk itu IPS sebagai program pendidikan tidak hanya terkait dengan nilai tapi
wajib mengembangkan nilai tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar